Rabu, 04 Februari 2015

Santapan Rohani Hari Ini: Demi Kesehatan Kita


Posted: 01 Feb 2015 09:00 AM PST
Senin, 2 Februari 2015
Demi Kesehatan Kita

Baca: 1 Tawarikh 16:7-14

16:7 Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN:

16:8 Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!

16:9 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!

16:10 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!

16:11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!

16:12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,

16:13 hai anak cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

16:14 Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.
Bersyukurlah kepada TUHAN. —1 Tawarikh 16:8
Demi Kesehatan Kita
Menurut seorang peneliti terkemuka dari Duke University Medical Center, “Seandainya sikap mengucap syukur adalah obat, hal itu akan menjadi produk terlaris di dunia dengan [manfaat kesehatan] bagi setiap sistem kerja organ tubuh yang utama.”
Bagi sebagian orang, mengucap syukur berarti menjalani hidup dengan rasa terima kasih—mengambil waktu untuk menyadari dan memperhatikan hal-hal yang telah kita miliki saat ini daripada untuk membayangkan hal-hal yang tidak kita miliki. Alkitab memperdalam makna dari sikap mengucap syukur itu. Tindakan mengucap syukur akan mendorong kita untuk mengenali Pribadi yang telah menyediakan segala berkat dalam hidup kita (Yak. 1:17).
Daud mengetahui bahwa Allah sendiri yang telah berperan dalam pengangkutan tabut perjanjian hingga tiba dengan selamat di Yerusalem (1Taw. 15:26). Oleh karena itu, ia menggubah sebuah kidung ucapan syukur yang berfokus kepada Allah, lebih daripada sekadar sebagai ungkapan sukacitanya atas peristiwa penting itu. Kidung itu dimulai dengan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1Taw. 16:8). Selanjutnya, Daud menyanyikan rasa sukacitanya atas kebesaran Allah, dengan menyoroti keselamatan dari Allah, kuasa penciptaan-Nya, dan kasih setia-Nya (ay.25-36).
Hari ini, kita dapat sungguh-sungguh bersyukur dengan cara mengagungkan Sang Pemberi, dan bukan meninggikan pemberian yang kita nikmati dari-Nya. Berfokus pada hal-hal yang baik dalam hidup kita mungkin akan bermanfaat bagi tubuh kita, tetapi mengarahkan syukur kita kepada Allah akan bermanfaat bagi jiwa kita. 
Mengucap syukur adalah respons alami kita atas anugerah Allah.
Sikap yang tidak tahu berterima kasih datang dari orang yang tak
punya hati. Mengucap syukur bukan hanya merupakan kebajikan
terbesar, tetapi juga sumber dari semua kebajikan yang lain. —irenius
Ucapan syukur yang sejati berpusat pada Sang Pemberi, bukan pada pemberian-Nya.

Kamis, 29 Januari 2015

berseluncur dan berdoa

Posted: 29 Jan 2015 09:00 AM PST
Jumat, 30 Januari 2015
Berseluncur Dan Berdoa

Baca: Markus 14:32-42

14:32 Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku berdoa."

14:33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar,

14:34 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah."

14:35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.

14:36 Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."

14:37 Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?

14:38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah."

14:39 Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.

14:40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya.

14:41 Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

14:42 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. —Lukas 6:12
Berseluncur Dan Berdoa

Ketika salju turun di Michigan, Amerika Serikat, saya suka mengajak cucu-cucu saya berseluncur di halaman belakang rumah dengan seluncuran plastik. Kami berseluncur menuruni bukit sekitar 10 detik, naik kembali ke atas bukit, lalu berseluncur ke bawah lagi, hingga berulang-ulang.
Ketika saya pergi ke Alaska bersama sekelompok remaja, kami juga biasa akan berseluncur. Kami diangkut bus sampai hampir tiba di puncak sebuah gunung. Kami melompat ke atas papan seluncur, dan selama 10 sampai 20 menit kemudian (tergantung pada tingkat keberanian masing-masing orang), kami berseluncur menuruni gunung itu dengan kecepatan sangat tinggi, seakan-akan kami sedang mempertaruhkan nyawa.
Sepuluh detik di halaman belakang rumah saya versus 10 menit menuruni gunung di Alaska. Keduanya sama-sama disebut berseluncur, tetapi jelas jauh sekali bedanya.
Saya sedang memikirkan tentang hal itu dalam kaitannya dengan doa. Terkadang kita berdoa bagaikan “berseluncur 10 detik di halaman belakang rumah”—doa-doa yang singkat, spontan, atau sebuah ucapan syukur yang pendek sebelum makan. Di saat-saat yang lain, kita didorong untuk berdoa seperti “berseluncur menuruni gunung”—doa-doa panjang yang membutuhkan konsentrasi dan kesungguhan yang mengobarkan hubungan kita dengan Allah. Kedua doa itu memiliki tempatnya masing-masing dan sama-sama penting bagi kehidupan kita.
Yesus sering berdoa dan terkadang Dia berdoa dengan waktu yang lama (Luk. 6:12; Mrk. 14:32-42). Bagaimanapun bentuknya, marilah kita mengungkapkan kerinduan hati kita kepada Allah, baik dalam doa yang singkat maupun doa yang panjang.
Tuhan, tolong tantang kami untuk senantiasa berdoa—singkat
ataupun panjang doa itu. Saat kami menjalani naik-turunnya
kehidupan kami, kiranya kami senantiasa mencurahkan isi hati
dan pikiran kami kepada-Mu dengan tidak bosan-bosannya.
Yang terpenting dari doa adalah doa itu keluar dari hati.